POIN NEWS – Manuver tiga parpol yaitu Golkar, PAN dan PPP membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) sempat membuat ramai dunia pencapresan.
Semula publik membaca arah KIB ke Ganjar. Ternyata, hingga hari ini KIB belum mendeklarasikan calon, baik capres, maupun pasangan capres-cawapres.
Ini artinya bahwa di KIB masih terbuka ruang untuk siapapun didaulat jadi pasangan calon.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Ukuran Ringkas, Standar Tinggi: Otis Gen3™ Villa Homelift Terbaru Untuk Kenyamanan Hidup Sehari-hari
Pendidikan dan Sertifikasi Jadi Agenda Utama DPW PROPAMI Surabaya Raya

SCROLL TO RESUME CONTENT
KIB bisa calonkan pasangan Airlangga Hartarto-Zulkifli Hasan. Airlangga ketua umum Golkar dan Zulkifli Hasan adalah ketua umum PAN.
Pasangan ini bisa melakukan percobaan di lapangan melalui survei. Test the water, sambil melakukan komunikasi politik dengan parpol-parpol lain.
Jika pasangan Airlangga Hartarto-Zulkifli Hasan berat, elektabilitasnya stagnan dan tidak menjanjikan kemenangan, maka bisa dinegosiasikan untuk mengusung pasangan Anies-Airlangga.
Golkar punya 12,31 persen suara. Tentu ini menjadi daya tawar cukup menarik. Apalagi jika Airlangga membawa gerbong KIB untuk mengusung Anies-Airlangga.
Ini bisa memperkuat Nasdem yang lebih dulu deklarasikan Anies sebagai salah satu kandidat terkuatnya.
Sebelum Nasdem mengumumkan capres-cawapresnya di akhir tahun ini, Golkar punya kesempatan untuk merapat ke Anies.
Demokrat dan PKS sudah sangat intens berkomunikasi dengan Nasdem. Dua partai ini kabarnya telah sepakat untuk mengusung Anies.
Baca Juga:
ULM Buka Enam Program Dokter Spesialis, Jawab Kebutuhan Kesehatan Masyarakat Kalimantan
GAC AION V Memenuhi Kebutuhan Mobil Listrik Murni di Nordik dengan Keunggulan Multidimensi
Khusus Demokrat masih berupaya mencari titik temu soal siapa wakil Anies.
Bila KIB menawarkan pasangan Anies-Airlangga, kemungkinan Demokrat bisa berlapang dada mengingat Golkar punya suara cukup besar yaitu 12,31 persen.
Jauh di atas Demokrat yang punya suara 7,77 persen. Jika pasangan Anies-Airlangga ini disepakati, maka akan terbentu koalisi besar.
Anies-Airlangga jika didukung oleh enam partai akan lebih memudahkan bagi koalisi besar ini untuk memenangkan pertarungan di pilpres 2024.
Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.
Di sisi lain, Gerindra-PKB yang diisukan akan mengusung Prabowo-Muhaimin Iskandar sepertinya akan layu sebelum berkembang.
Ibarat ban, kempes duluan sebelum jalan. Alasan utamaya, karena Prabowo-Muhaimin dalam berbagai survei masih berat untuk dipasarkan ke publik.
Lawan Anies-Airlangga adalah kubu PDIP. Boleh jadi Puan-Ganjar yang akan maju dengan tiket dari PDIP. Lalu kemana dukungan Gerindra dan PKB diberikan?
Apakah kedua partai ini akan mengusung calon sendiri? Nampaknya tidak terlalu mudah, kecuali jika Prabowo bersedia didampingi oleh Muhaimin Iskandar.
Dengan begitu, akan ada tiga calon yaitu Anies-Airlangga, Puan-Ganjar dan Prabowo-Muhaimin.
Akan terjadi dua putaran pilpres, sebelum akhirnya Indonesia memiliki presiden baru periode 2024-2029.
Opini: Muwahhid, pemerhati politik.***


















